Sebuah Penantian
Engkau bagaikan oase di Padang Sahara
Menguasai kalbu di kerajaan hati
Hati gundah, jiwa meronta
Wahai jiwa yang kuimpikan
Akankah engkau hadir dalam penantian
Hati gelisah kian memendam
Laksana batin kian tersiksa
Rintihan batin nan penuh harap
Sejuta impian akan terwujud
Meski hati kian menggolak
Dalam penantian yang tak berujung
by : Arsih Zahra Firdaus
SAHABATKU
Terangnya kemilau sang bimtang
Tak mampu menandingi
Terangnya cahaya kasih sayang
Yang kuberikan pada kalian
Ketika kalian hadir dalam hidupku
Terasa indah temani sepi
` Kalian segalanya bagiku
Setiap hari kita bersama
Menjalani hari-hari bersama
Denagn canda tawa
Aku berharap
Aku selalu ada di bayang-bayang kalian
Menghilang tanpa jejak
Berlari tanpa bayang
Lihat aku di sini
Aku berharap
Persahabatan kita
Sampai besok
Karena kalianlah
Teman sejatiku
by ; adelia juli kardika
KASIHMU IBU
Ibu . . .
Engkau pelita dalam kelamnya hidupku
Engkau cahaya yang menyinari setiap pijaranku
Engkaulah sumber segala inspirasiku
Ibu . . .
Betapa besar pengorbananmu
Kau torehkan aku arti kehidupan
Di setiap tapakan langkahku
Ibu . . .
Apa yang bisa kuberikan?
Apa yang bisa kulakukan,
Untukmu ibu?
Ibu . . .
Bukan intan yang kuberi
Buka pula berlian,
Untukmu mutiara hatiku
Hanya lewat puisi sederhana,
Senandung dari lubuk hatiku,
Kupersembahkan sebagai tanda, cintaku padamu
by ; siska natsir
KEMBALI
Sering kali terbesit kerinduan
Di hati kecil ini
Akan . . .
Hidup dengan ridho-Mu
Hidup dengan kasih-Mu
Hidup dengan cinta-Mu
Merupakan kebahagiaan tak hingga,
bagi diri ini yang masih hidup
Karena nafas yang kau beri
Sungguh kuasa diri-Mu
dan . . .
Bila sudah tiba waktunya kuberpulang pada-Mu
Panggil aku dalam keadaan mencinta-Mu
by ; LIANTI
IBU
Ibu . . .
Ketika kau kandung
Hembusan nafasmu menjadi sumber nafasku
Sekitar 9 bulan kau terlunta-lunta
Ibu . . .
Ketika ku akan dilahirkan
Kau hadapkan jiwamu pada maut
Demi kelahiranku
Ibu . . .
Ketika ku belia
Kau menjadi cahaya di setiap langkahku
Tanpa keputusasaanmu
Ibu . . .
Begitu besar pengorbananmu bagiku
Andaikan ada penyembahan setelah Allah
Pastilah ku bersujud untukmu . . . Ibu
MAWAR
Ku insan yang terkapar tak berdaya,
Tanpa sandaran
Ku bukan dinding yang kokoh
Tiang yang kuat
Melainkan ku hanya mawar
Di tepian jalan
Yang tumbuh tak diinginkan
Setiap yang melihatnya
Ingin memetiknya
Meski ku berduri
Parasku tetap indah
Sastrawanpun tak dapat mendetailkan
Indahnya dengan bahasa pena
Pelukis saja tak dapat menulisnya di atas
Kanvas
Tapi pernahkah Sipemetik berpikir
Duri itu pelindung goresan luka
Yang kau persembahkan
Ku bukan lampu di persimpangan jalan
Yang berdiri kokoh dan tegar menerangi Sang malam
Karena ku insan biasa yang begitu lelah
BY ; Sulvina Nawawi